seperti janji gw... niy edisi kedua... hehe
1. Tiwi
Manusia yang sadar akan kesalahannya pasti menyegerakan untuk meminta maaf
Tapi nyatanya memperoleh maaf dari sesama tak semudah memperoleh ampunan dari Allah
Di hari yang fitri ini, lahir dan batinku mohon keikhlasanmu untuk maafkan semua salahku, sekecil atau sebesar apapun
Karena dengan maafmu dapat melengkapi kemenanganku dan memudahkan langkahku mencapai surga Allah
Met hari raya Idul Fitri 1430 H
2. Danang
Waktu mengalir bagaikan air
Hari raya suci hadir
Ada luka yang pernah terukir
Ada khilaf yang sempat tergulir
Hadir dari kesucian hati
Mina aidin walfaidzin
3. iqbal
assalaualaikum warahmatullahiwabarkatuh
saat mentari telah terbit, mengukuhkan cahayanya seiring dengan ramadhan yang telah berakhir
demikian juga insane manusia yang hatinya pernah khilaf dan mengukir salah antar sesamanya, wajib untuk saling memberikan cahaya kesejukan seluruh maaf lahir dan batin menuju fitrah suci Illahi Rabbi
dengan penuh kerendahan hati kami menghaturkan selamat hari raya idul fitri 1430 H
minal aidin walfaidzin
mohon maaf lahir dan batin
wassalamualaikum wr wb
4. Listi
Sempurnakanlah jalan kemenangan ini dengan keikhlasan maaf kita
Taqobbalaallahu minna wa minkum
Mohon maaf lahir dan batin
5. Fajar
Kata dan tingkah serta batin kadang lepas dari kesalahan , sengaja maupun tak disengaja dengan kemenangan terucap kata
Minal aidin walfaizin
Taqobbalallahumma wa minkum
Agar kita menjadi lebih fitri yang sempurna
Sekali lagi saya memohon maaf atas segala kesalahan saya
6. Linda Wieka
Ragaku berpeluh debu
Hatiku tak seputih salju
Tuturku tak semnis madu
Maka lebarkanlah hatimu untuk permohonan maafku
Selamat idul fitri 1430 H
Mohon maaf lahir dan batin
7. Amru
Ku ambil daun tuk kujadikan kertas
Kupatahkan ranting tuk kujadikan pena
Kuteteskan air mata tuk kujadikan tinta
Kurangkai kata tuk ku jadikan kalimat
Tuk ucapkan minal aidin walfaizin
8. Didin
Menyambung kasih beratap doa
Semasa hidup pernah bersimbah dosa dan khilaf
Harap diri dibasuh maaf
Minal aidin walfaizin mohon maaf lahir dan batin
9. Ayu Nanda
DOsa yang telah kronis, keslahan yang menjadi kanker dan ucapan yang pathogen
Dapat bermetastase ke hepar
Sebulan telah mengoperasi dosa-dosa kita di bulan yang steril ini
Mohon maaf lahir dan batin
10. Angger
Mungkin nervus salah menghantarkan rangsangs sehingga glossus salah berucap yang membawa HEPAR tersugesti dan ductus lacrimalis dialiri cairan yang menetes deras
Maaf bila ada salah kata yang membuat ekstremitas dan system saraf pusat bekerja tak normal
Minal aidin walfaizin
Met idul fitri 1430 H
11. Wahyu Prasetyo
Jejak telah tertapak di ujung jalan
Dalam gontai langkah kutadahkan tangan
Ijinkan kupinta maaf setulus hati
Tuk sucikan hati dan raih ridho Illai
Minal aidin walfaidzin
12. Bias R
I pray that Allah grant you a mind free 4 worry
Eart free for sadness
Soul free for sin
Body free for sickness
To celebrate Eid Mubarak 1430 H
Forgive me
13. Dit0
Sebening dan sesejuk air wudhu
Sesuci AlQuran
Semerdu alunan dzikir
Seindah sholat 5 waktu
Minal adin walfaizin
14. Jahidin
Bismillah
Seiring gema takbir yang berkumandang
Kita sambut hari nan fitri dengan kebeningan hati
Saudaraku, mohon dari hati yang paling tulus, maaf lahir batin atas salah dan khilaf baik yang sengaja maupun yang tidak disengaja
15. Agus
Tiada hari tanpa memaafkan
Tiada kewajiban berpuasa sebaik bulan ramadhan
Ijinkan kedua tangan bersimpuh maaf untuk lisan yang tak terjaga
Janji yang selalu terabaikan
16. Roni
Kumandangkan takbir dan mari kita samut kemenangan dengan segala keikhlasan hati
Selamat idul fitri 1430 H
Minal aidin walfaizin
Mohon maaf lahir dan batin
17. mirza
mungkin aku bukan seseorang yang pandai merangkai kata-kata indah
tapi dengan kata-kata sederhana ini dan dengan kesederhanaan pula mirza minta maaf atas segala tindakan, ucapan yang tidak berkenan di hati
minal aidin walfaidzin
semoga dengan tibanya hari kemenangan kita menjadi hamba yang suci dan semakin dekat dengan-Nya
Amin
18. Peppie
Berhubung peppie uda kehabisan kata
kata mutiara di bulan yang suci ini peppie mo ngucapin minal aidin walfaizin
mohon maaf lahir dan batin
maafin kesalahan yang uda aku perbuat ia teman, baik sengaja ataupun enggak
coz noody perfect
19. Anonim
Untuk semua tuturku, tindakanku, pikirku dan segala hal yang membuat luka dalam ingatmu
Izinkan aku mengucapkan Minal Aidin walfaidzin
Mohon maaf lahir dan batin
Selamat idul fitri 1430 H
Tampilkan postingan dengan label nurani. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label nurani. Tampilkan semua postingan
Senin, 21 September 2009
Selasa, 15 September 2009
Quantity vs Quality
Indah rasanya mencoba merenungkan hidup ini... banyak kosakata... banyak peristiwa... banyak realita... banyak logika.
Dan yang gag kalah banyak yaitu banyak narapidana (meski di luar jeruji besi).
Kebaikan... kejahatan...berjalan mengiringi kehidupan.
Di balik semua yang telah saya tulis di atas kuntitas dan kualitas bukanlah hita dan putih tetapi bukan juga seperti kebikan dan keburukan. Mereka layaknya pohon dan daun, saling melengkapi.
Jujur hati saya tergetar ketika mendengar saling melengkapi. Manusia zaman sekarang telah lama tak mampu memaknai saling melengkapi.
Dalam beribadah bagi seorang muslim tentulah masih ada kuantitas atau kualitas yang sering dipertanyakan. Di Indonesia saja,,, kita dapat melihat puluhan jenis aliran kepercayaan dalam tubuh ISlam sendiri (termasuk yang mengatasnamakan Islam juga). Tentu saja ini ukanlah hal yang buruk. Memang benar Indonesia termasuk slah satu negara muslim terbesar di dunia. Tapi saya sendiri cukup malu untuk melihat saudara-saudara muslim saya berselisih paham sampai saling melakukan kekerasan satu sama lain. sungguh ngeri sekali. Padahal menurut yang saya tahu, Rasulullah pernah bersabda bahwa antara satu muslim dengan yang lainnya adalah satu tubuh. Ini berarti jika satu sakit maka yang lain akan merasakan sakitnya. Jarang terjadi!!!
Sekarang kita kembali lagi ke bahasan kualitas dan kuantitas? mana yang lebih dahulu? kualitas atau kuantitas? telur atau ayam? hehe
Contoh sederhana misalkan shalat tarawih, ada yang lebih memberatkan kualitas ada yang memberatkan kuantitas. Pernah saya merasakan suatu hari ketika mengikuti tarawih berjamaah di suatu musholla umum, dengan 20 rakaat. Namun demikian, kami menyelesaikan shalat isya', shalat tarawih dan shalat witir lengkap dengan doa QUnutnya tidak lebih dari setengah jam. Hebat bukan? ini bukan perjalanan isra' yang dilakukan oleh Rasulullah yang sempat tidak dipercaya karena imposibilitasnya. Tapi ini memang juga benar-benar terjadi. ayangkan saja kami melakukan shalat 29 rakaat dengan waktu secepat itu, menurut rumus fisika berapa kecepatan rata-rata kami? sungguh menakjubkan. Saya benar-benar simpati dengan jamaah yang telah renta dengan segala keterbatasan pada sistem muskuloskeletal dan persyarafannya dalam menjalani ibadah semacam itu. HIngga setelah semua rangkaian ibadah di musholla itu selesai semua sesepuh yang ikut jamaah menelonjorkan kakinya dan dengan frekuensi napas yang cepat menyalami jamaah lainnya. Inilah gambaran kuantitas ibadah kita. Ketika sang imam ditanya kenapa seperti itu, maka memang beliau mencoba untuk ibadah yang banyak di bulan RAmadhan, terutama shalat tarawih (meski dengan alasan lain ingin cepat selesai shalatnya).
Banyak orang menunjukkan banyak ibadah (kuantitas) tapi tidak dibarengi dengan kualitasnya. Menurut saya ini sia-sia (meski memang menurut sebagian orang beralasan, mendingan daripada nggak sama sekali).
BAnyak orang mau pergi ke masjid tapi niatnya mau ambil sandal jamaah lain. Banyak orang mau sodaqoh tapi dengan niat pamer ke tetangga, banyak orang melakukan hal-hal baik tapi niatnya belum ditata.
Tapi apalah gunanya kuantitas jika tidak berkualitas. KEmbali ke pernyataan saya yang awal tapi kuantitas dan kualitas adalah saling melengkapi. MAri kita sempurnakan kualitas ibadah kita dan tidak lupa meningkatkan kuantitasnya juga.
semoga amal ibadah kita diterima di sisi-Nya.
"(yaitu) orang-orang yang menjadikan agama mereka sebagai main-main dan senda gurau, dan kehidupan dunia telah menipu mereka. Maka pada hari kiamat ini, Kami melupakan mereka sebagaimana mereka melupakan pertemuan mereka dengan hari ini, dan sebagaimana mereka selalu mengingkari ayat-ayat kai." (Al-A'raf 51)
Dan yang gag kalah banyak yaitu banyak narapidana (meski di luar jeruji besi).
Kebaikan... kejahatan...berjalan mengiringi kehidupan.
Di balik semua yang telah saya tulis di atas kuntitas dan kualitas bukanlah hita dan putih tetapi bukan juga seperti kebikan dan keburukan. Mereka layaknya pohon dan daun, saling melengkapi.
Jujur hati saya tergetar ketika mendengar saling melengkapi. Manusia zaman sekarang telah lama tak mampu memaknai saling melengkapi.
Dalam beribadah bagi seorang muslim tentulah masih ada kuantitas atau kualitas yang sering dipertanyakan. Di Indonesia saja,,, kita dapat melihat puluhan jenis aliran kepercayaan dalam tubuh ISlam sendiri (termasuk yang mengatasnamakan Islam juga). Tentu saja ini ukanlah hal yang buruk. Memang benar Indonesia termasuk slah satu negara muslim terbesar di dunia. Tapi saya sendiri cukup malu untuk melihat saudara-saudara muslim saya berselisih paham sampai saling melakukan kekerasan satu sama lain. sungguh ngeri sekali. Padahal menurut yang saya tahu, Rasulullah pernah bersabda bahwa antara satu muslim dengan yang lainnya adalah satu tubuh. Ini berarti jika satu sakit maka yang lain akan merasakan sakitnya. Jarang terjadi!!!
Sekarang kita kembali lagi ke bahasan kualitas dan kuantitas? mana yang lebih dahulu? kualitas atau kuantitas? telur atau ayam? hehe
Contoh sederhana misalkan shalat tarawih, ada yang lebih memberatkan kualitas ada yang memberatkan kuantitas. Pernah saya merasakan suatu hari ketika mengikuti tarawih berjamaah di suatu musholla umum, dengan 20 rakaat. Namun demikian, kami menyelesaikan shalat isya', shalat tarawih dan shalat witir lengkap dengan doa QUnutnya tidak lebih dari setengah jam. Hebat bukan? ini bukan perjalanan isra' yang dilakukan oleh Rasulullah yang sempat tidak dipercaya karena imposibilitasnya. Tapi ini memang juga benar-benar terjadi. ayangkan saja kami melakukan shalat 29 rakaat dengan waktu secepat itu, menurut rumus fisika berapa kecepatan rata-rata kami? sungguh menakjubkan. Saya benar-benar simpati dengan jamaah yang telah renta dengan segala keterbatasan pada sistem muskuloskeletal dan persyarafannya dalam menjalani ibadah semacam itu. HIngga setelah semua rangkaian ibadah di musholla itu selesai semua sesepuh yang ikut jamaah menelonjorkan kakinya dan dengan frekuensi napas yang cepat menyalami jamaah lainnya. Inilah gambaran kuantitas ibadah kita. Ketika sang imam ditanya kenapa seperti itu, maka memang beliau mencoba untuk ibadah yang banyak di bulan RAmadhan, terutama shalat tarawih (meski dengan alasan lain ingin cepat selesai shalatnya).
Banyak orang menunjukkan banyak ibadah (kuantitas) tapi tidak dibarengi dengan kualitasnya. Menurut saya ini sia-sia (meski memang menurut sebagian orang beralasan, mendingan daripada nggak sama sekali).
BAnyak orang mau pergi ke masjid tapi niatnya mau ambil sandal jamaah lain. Banyak orang mau sodaqoh tapi dengan niat pamer ke tetangga, banyak orang melakukan hal-hal baik tapi niatnya belum ditata.
Tapi apalah gunanya kuantitas jika tidak berkualitas. KEmbali ke pernyataan saya yang awal tapi kuantitas dan kualitas adalah saling melengkapi. MAri kita sempurnakan kualitas ibadah kita dan tidak lupa meningkatkan kuantitasnya juga.
semoga amal ibadah kita diterima di sisi-Nya.
"(yaitu) orang-orang yang menjadikan agama mereka sebagai main-main dan senda gurau, dan kehidupan dunia telah menipu mereka. Maka pada hari kiamat ini, Kami melupakan mereka sebagaimana mereka melupakan pertemuan mereka dengan hari ini, dan sebagaimana mereka selalu mengingkari ayat-ayat kai." (Al-A'raf 51)
Sabtu, 13 September 2008
Dalam Nuraniku
Pada dasarnya tidak ada orang yang bercita-cita menjadi orang jahat. Mulai detik ini aku akan berusaha menjadi orang yang mulia. Aku mulai bosan dengan diriku yang hina, dibenci banyak orang.
Orang mulia bukan berarti lemah, justru kuat hatinya.
Orang mulia bukan berarti munafik melainkan memaafkan dengan cerdik.
Orang mulia bukan berarti pendiam melainkan menjaga tutur kata.
Orang mulia bukan berarti pendendam melainkan menyadarkan.
Orang mulia bukan pengkhianat melainkan pandai bersahabat.
Aku sudah terlalu hina hingga malu untuk malmbungkan doa padaNya. Begitu malu aku meratapi diriku. Allah selalu menyayangiku, selalu memberikan apa yang kumau,,,,,,,,,Apa yang telah kuberikan? Mau apa lagi diriku? Permohonanku dari yang terkecil hingga yang terdahsyat telah kudapatkan. Apa yang telah kuberikan pada Tuhanku?
Aku makhluk konyol dan tidak berguna. Namun Allah selalu menyayangiku. Allah selalu memberikan yang terbaik. Aku..........keyakinanku semakin dalam akan kalimat,”Mintalah maka akan kuberi.” Allah selalu memberikanku jalan, menunjukkan petunjuk. Aku mulai mengerti.........Allah selalu punya alasan dan tujuan atas setiap pemberiannya. Meski kadang aku menganggapnya musibah padaha itu adalah anugerah. Meski aku banyak dosa, pintu maaf dariNya jauh lebih besar dan luar biasa. Allah Maha Penyayang. Hidup, mati, duka, lara, sakit, bahagia, derita datang dan pergi. Datang di saat yang terbaik dariku dan itulah yang terbaik yang harus kuterima. Jika mereka datang dariNya, aku mau menuntut apalagi?
Jika kita ingin mendapatkan kehidupan yang bahagia, pandai-pandailah mencari kebahagiaan dari setiap orang yang kita dapatkan. Kebahagiaan asalnya dari kita sendiri, jangan pernah menuntut dari orang lain. Kunci kebahagiaan adalah rasa syukur.
Jika perjalananmu begitu panjang......sedangkan pertolongan Allah belum juga datang, maka ujian dan fitnah akan lebih ganas dan berat! Tidak ada yang tegar kecuali mereka yang dilindungi Allah.Merekalah orang-orang yang bisa menancapkan iman di dalam jiwa.....yang bisa menjaga amanah langit untuk dijalankan di bumi......Amanah Allah di setiap hati manusia.
Un7-240608
Orang mulia bukan berarti lemah, justru kuat hatinya.
Orang mulia bukan berarti munafik melainkan memaafkan dengan cerdik.
Orang mulia bukan berarti pendiam melainkan menjaga tutur kata.
Orang mulia bukan berarti pendendam melainkan menyadarkan.
Orang mulia bukan pengkhianat melainkan pandai bersahabat.
Aku sudah terlalu hina hingga malu untuk malmbungkan doa padaNya. Begitu malu aku meratapi diriku. Allah selalu menyayangiku, selalu memberikan apa yang kumau,,,,,,,,,Apa yang telah kuberikan? Mau apa lagi diriku? Permohonanku dari yang terkecil hingga yang terdahsyat telah kudapatkan. Apa yang telah kuberikan pada Tuhanku?
Aku makhluk konyol dan tidak berguna. Namun Allah selalu menyayangiku. Allah selalu memberikan yang terbaik. Aku..........keyakinanku semakin dalam akan kalimat,”Mintalah maka akan kuberi.” Allah selalu memberikanku jalan, menunjukkan petunjuk. Aku mulai mengerti.........Allah selalu punya alasan dan tujuan atas setiap pemberiannya. Meski kadang aku menganggapnya musibah padaha itu adalah anugerah. Meski aku banyak dosa, pintu maaf dariNya jauh lebih besar dan luar biasa. Allah Maha Penyayang. Hidup, mati, duka, lara, sakit, bahagia, derita datang dan pergi. Datang di saat yang terbaik dariku dan itulah yang terbaik yang harus kuterima. Jika mereka datang dariNya, aku mau menuntut apalagi?
Jika kita ingin mendapatkan kehidupan yang bahagia, pandai-pandailah mencari kebahagiaan dari setiap orang yang kita dapatkan. Kebahagiaan asalnya dari kita sendiri, jangan pernah menuntut dari orang lain. Kunci kebahagiaan adalah rasa syukur.
Jika perjalananmu begitu panjang......sedangkan pertolongan Allah belum juga datang, maka ujian dan fitnah akan lebih ganas dan berat! Tidak ada yang tegar kecuali mereka yang dilindungi Allah.Merekalah orang-orang yang bisa menancapkan iman di dalam jiwa.....yang bisa menjaga amanah langit untuk dijalankan di bumi......Amanah Allah di setiap hati manusia.
Un7-240608
Langganan:
Postingan (Atom)