Rabu, 02 September 2009

MaBA Bayar Parkir

2 September 2009
Pagi itu aku telah mengalami krisis kejiwaan karena proposal penelitianku yang tak kunjung ditandatangani dosen pembimbingku. Wuih… aku sudah bisa mengenal istilah “krisis”. Pukul delapan pagi aku dapat kuliah tentang “KRISIS”. Uih… dosennya mendefinisikan kata krisis itu dengan definisinya sendiri. Pengen tahu maknanya? Krisis adalah suatu keadaan yang dapat membuat seseorang ”Kaget”. Definisi yang aneh menurutku. Tapi baiklah... kali ini sebenarnya kita tidak membahas tentang itu.
Setelah kuliah berakhir... sebenarnya bukan dikarenakan kuliah berakhir tapi notebook dosennya yang kahabisan baterai jadinya beliau terpaksa mengakhiri kuliah meski masih ada materi kuliah yang musti disampaikan (atau mungkin juga beliau gag inget materi apa sisanya), jadi mau gag mau kuliah berakhir pagi itu. Ini niy akibat ketergantungan teknologi. Mahasiswa sekarang jadi banyak korupsi dan dikorupsi.
...
Di kampusku sejak beberapa tahun lalu mulai diberlakukan stiker parkir berlangganan dengan membayar di muka sekali dan stiker itu membuat pemiliknya (bisa dikatakan motornya sih) gratis parkir selama satu semester di kampus. Berasa kayak kartu operator telepon prabayar aja. Dan proses registrasinya... pertama harus bayar ke bank truz bawa slip bukti pembayaran ke bagian admin parkir berlangganan, setelah ntu, petugas memberikan stiker kepada kita truz tempel deh di kendaraan kita. Selesai.
Oke baiklah. Setelah itu...
Aku punya janji ke temanku untuk pergi ke bank bareng dengan keperluan bayar parkir motor berlangganan. Tapi setengah kaget juga teman baikku ntu meninggalkanku, dia berangkat ke bank duluan. Hiks. Aku baru tahu ketika dia sms sudah di bank. Baiklah apa daya. Lalu ku bertekad dan mulai sadar. Aku adalah mahluk independen dan sudah berusia 20 tahun. Jadi mustinya bisa dunkz ke bank sendirian. Tapi sebelum berangkat ternyata ada teman sekelasku nitip juga mo dibayarin gthu. Akhirnya.. baiklah... mungkin bakal dihitung amal ibadah apalagi di bulan ramadhan (bakal berlipat katanya). Dan... ayolah.... aku harus belajar jadi orang yang tidak apatis. Akhirnya akau berangkat ke bank. Ops... motorku berada di posisi yang sangat tidak menguntungkan bagiku sehingga sulit dikeluarkan dari tempat parkir semula. Hiks. Duwh ternyata benar kata dosenku, ”Apatisme jaman sekarang ini sudah sangat merajai Indonesia juga”. Aku yang sudah kelihatan meringis kesusahan tak digubris juga oleh tukang parkir. Aku harus bersusah payah mengeluarkan motorku (yang posturnya bisa dibilang lebih gedhe daripada aku) sendirian. Setelah sekian menit aku meringis dengan muka aneh dan memelas ada juga tukang parkir yang akhirnya iba padaku dan lalu mebantuku. He... (kawan, itulah kondisi tempat parkir di FKUB)

Perjalanan ke Bank (nothing special)

Ketika sampai di bank, aku mencoba mengirim SMS ke temanku yang sudah ngendon disini duluan. Ternyata aku sudah dibooking-kan nomor antrian sebelum aku mengambil slip setoran. Tak lama kemudian temanku menghampiri aku yang ada dalam kekacauan. Aku mengalami disorientasi karena krisis watu. Aku bingung harus melakukan apa sehingga aku terkesan orang yang sangat bodoh dan ceroboh saat itu (karena sebenarnya aku tidak selalu bodoh kok). Belum lagi temanku mencoba menakut-nakuti aku bahwa sebentar lagi nomor antrianku sudah dipanggil. Oh tidak, tapi itu benar. Padahal aku harus mengisi 2 rangkap slip. Dan, nomor sialan itu sudah dipanggil petugas padahal aku belum selesai mengisi satu form pun. Aku hanya sempat mengisi identitasku di satu slip saja tapi lau nekat maju saja.
Ketika sapai di depan petugas aku menyerahkan form cacat itu (dalam artian aku memang sengaja belum mengisinya). Beginilah percakapanku dengan petugas bank:
Petugas : ”Selamat pagi mbak, ada yang bisa dibantu?” (bagus sekali aku tidak dipanggil ibu, karena biasanya jika aku berbincang dengan petugas operator telepon seluler aku dipanggil ibu, yang parah, aku pernah dipanggil ”Pak” saat berbincang dengan petugas pelayanan salah satu merk handphone). ”Nomor antrian 113?”
Aku : ”iya.” (dengan aku yang meleng dan tidak mengiraukan petugas di depanku. Kau masih disorientasi)
Petugas :” nomornya mbak!”
Aku tidak mengerti apa mau petugas itu. Jadi aku diam saja sambil melihatnya. Petugas bank tersebut mengulang-ulang lagi bahwa dia minta nomor antrianku. Bodohnya aku. Aku yang baru menegrti maksudnya langsung memberikan nomor antrian yang sudah kuremas di kepalan tanganku dan telah menjadi bola kertas kecil. Oho
Aku : ”saya mau bayar parkir berlangganan kampus saya. Tapi saya tidak tahu nomor rekening rektor saya sehingga saya tidak menuliskannya.” (wajahku mungkin saat itu terlihat memelas dan kebingungan)
Petugas : ”bisa saya lihat slipnya?” (sambil tersenyum sesuai dengan protab pelayanan)
Aku : ”oh bisa. Silahkan”
Petugas : ”oh, silahkan ditandatangani dulu mbak bagian ini.” (sambil menunjukkan bagian penyetor). Aku menandatanganinya dengan cepat
Petugas : ”silahkan ditulis juga di bagian terbilang ini Rupiah” (mata uang negaraku bro). (owalah... gthu ja mbaknya gag bisa nulisin buatku yach). Setelah itu petugas bank berjilbab yang mungkin bisa dikatakan baik hati itu mencarikan nomor rekening rektorku. Dan ketemu... Sementara itu, aku disapa oleh kakak kelasku yang berdiri di sampingku, di teller sebelah, mungkin dengan kepentingan yang sama denganku. Lalu petugas bank memasukkan kertas slip ke semacam printer yag aku gag tahu namanya... yang ada di bank-bank itulah. Kemudian membubuhkan stempel di slip tersebut. Dan selesai. ”Ini mbak slipnya. Ada lagi yang bisa dibantu?”
Aku : ”oh tidak. Terima kasih.”
Petugas : ”Dengan mbak siapa?”
Aku : ”Unsi”
Petugas : ”Oh ini mbak Unsi sendiri?”
Aku : ”Ya iyalah mbak. Masa’ ibunya.”
Petugas : ”Oh baiklah mbak Unsi. Masih ”MABA” Mbak?” (Tamparan baru bagi bathinku. MABA adalah singkatan dari mahasiswa baru.Owh tidak!. Mahasiswa Basi sih iya)
Aku : ”Oh...enggak kok mbak” (setengah senyum kecut)
Petugas : ”Baiklah mbak Unsi. Ada lagi yang bisa dibantu?”
Aku : Tidak ada mbak.
Petugas : Kalu begitu terima kasih (itu adalah kata-kata halus petugas pelayanan dengan arti ”silahkan pergi dari sini”)
Sambil meninggalkan teller dengan petugas tersebut aku masih menggumam. Hah??? Maba? What the hell is goin on here? Mang tampangku masih cocok jadi Maba apa? Ato mang tingkah lakuku tadi hanya wajar dilakukan oleh maba? Oh, tidak. Memang sih kata orang wajahku ntu masih imut, bahkan aada yang masih mengira aku masih SMP (gejala narsistik). Mang Maba bisa langsung bisa daftar Tugas Akhir seperti yang kulakukan sebelum ke bank ini? Oh, mungkin seperti kata dosenku, ”Maba Milenium kale ya” hehe.
Aku kembali ke tempat duduk antrian di mana temanku menungguku. Ops aku masih harus menyetor biaya satu kali lagi, titipan teman. Dan uang yang harus kusetor adalah ratusan ribuan sehingga aku harus mencari lima puluh ribuan. Ops tidak ada. Gawat!!!!! Temanku sudah tertawa cekikikan padaku seolah berkata,”Ini bank bung, bukan pasar”. Sementara itu, temanku yang mungkin biang kekonyolanku hari ini itu, ternyata juga sudah mengambil nomor antrian lagi untuk penyetoranku yang kedua. Oh tidak!!!!

Tidak ada komentar: